Pertengahan tahun 1998 adalah awal perubahan sistem politik di Indonesia. Sebelumnya, politik di negeri ini hanya dikendalikan satu kekuatan Orde Baru (Orba), dengan mesin penggeraknya berupa Golkar, birokrasi dan ABRI. Hampir tak ada ruang gerak bagi inspirasi dan aspirasi politik Islam yang sesungguhynya, baik berupa gerakan dakwah maupun politik di ranah publik. Apa saja yang berbau “Islam” dicurigai, karena itu harus dihabisi.Bulan Mei 1998, kekusaan Orde Baru di bawah komando Presiden Soeharto jatuh. Saat itu pula euforia demokrasi dan kebebasan terjadi di mana-mana, termasuk berdirinya partai politik (parpol) baru.

Melihat peluang ini, para aktivis dakwah pun tak mau ketinggalan. Maka pada Agustus 1998 mereka mendeklarasikan Partai Keadilan (PK), yang kini berubah baju menjadi PK Sejahtera (PKS).

Dakwah Islam sebagai Kekuatan Politik Baru

Adalah Mahfud Siddik, Direktur Yayasan Studi Islam dan Dunia Kontemporer (SIDIK), aktivis LSM sekaligus aktivis dakwah, yang sebelum tumbangnya rezim Soeharto, telah merancang lahirnya parpol dakwah.

Melalui lembaganya itu, ia bersama sejumlah koleganya melakukan kajian intensif tentang kemungkinan dibentuknya wadah politik bagi aktivitas dakwah. Teori-teori sosial dan pembangunan pun menjadi hidangan atau menu tiap hari di meja LSM yang dikomadaninya itu.

“Saat itu ada peluang dakwah Islam untuk tampil sebagai kekuatan politik baru ketika terjadi perubahan-perubahan. Itulah sebabnya sebelum 1997 itu di SIDIK pernah ada perbincangan kemungkinan mendirikan partai politik. Nah, itu kita coba diskusikan dengan teman-teman di daerah di berbagai provinsi. Setelah 1998 terjadi perubahan politik, gagasan-gagasan yang yang didiskusikan dan diformulasikan banyak diadopsi sampai munculnya PK,” ujarnya.

Alasan untuk mendirikan partai dakwah di era reformasi, terang Ketua F-PKS, karena menjelang tahun 1997 kondisi bangsa Indonesia saat betul-betul dalam jurang kehancuran. “Ketika terjadi krisis ekonomi, saya lebih mengintensifkan kajian sampai pada memprediksi perubahan-perubahan yang terjadi. Nah saat itulah kita menilai tahun 1998 akan terjadi perubahan politik karena adanya gerakan pembakangan dari masyarakat,” paparnya.

Untuk membulatkan tekad tersebut, sambung Mahfudz, dirinya menghadap kepada para murabbi dakwah, untuk mendapatkan persetujuan. Alhasil, rencana dan desain pendirian parpol bagi jama’ah tarbiyah direstui.

Beberapa argumentasi dan dasar pendirian parpol dakwah disampaikannya di hadapan para guru da’i itu dengan panjang lebar. Antara lain, katanya, terjadi krisis kepercayaan di masyarakat terhadap parpol seperti Golkar, PDI dan PPP.

“PPP satu-satunya parpol yang dianggap mencerminkan politik Islam itu juga mengalami krisis kepercayaan, karena masyarakat melihatnya sebagai bagian Orba,” ujar ayah sembilan anak ini.

Selain itu, munculnya berbagai perlawanan dari masyarakat yang diwakili mahasiswa adalah bukti masyarakat ingin adanya perubahan dan perbaikan. Aksi demonstrasi digelar hampir di seluruh pelosok Nusantara. “Kita melihat aspirasi perubahan dari masyarakat itu kuat. Karena itu kita berfikir, mereka ini perlu diwadahi. Mereka ingin perubahan, mereka juga ingin wadah baru. Wadah ini untuk kepentingan mereka, tidak lagi terjebak pada kekekuatan partai-partai sebelumnya. Itu yang kita katakan,” paparnya.

Kedua, sambung Mahfudz, yang juga anggota Komisi II DPR, secara pemikiran dan metodologi, target-target terwujudnya masyarakat yang Islami memang juga harus diperjuangkan lewat politik. Kendati memang parpol itu bukanlah menjadi satu-satunya reprentasi dakwah bagi kalangan jama’ah tarbiyah.

Setelah lahir PK, alumni Fisip Universitas Indonesia (UI) ini mendapat amanah sebagai Ketua Departemen Kaderisasi, yang punya tugas untuk merekrut dan mencetak generasi dan sayap baru di tubuh PK.

Menjadi Komandan Juru Dakwah Parlemen

Pemilu 2004 telah mengantarkan suami dari Ummu Umar ini menjadi anggota DPR dari Indramayu-Cirebon. Sejak itu pula, ia ditunjuk oleh markas PKS sebagai Sekretaris Fraksi.

Awal menjadi anggota Dewan pascapemilu presiden-wapres 2004, bukankanlah masa indah bagi Mahfudz. Pasalnya, di Senayan terjadi tawuran antara koalisi kerakyatan dengan koalisi kebangsaan.

Sebagai orang dua di fraksi, laki-laki kelahiran Jakarta 21 September 1966 ini harus memutar otak dan energi agar perpolitikan di parlemen berjalan dengan semestinya. Tapi, lantaran koalisi kebangsaan punya gelagat untuk mengusai gedung parlemen, maka Mahfudz harus malang melintang untuk menghadang kekuatan pro Orde Baru itu.

“Kita menghadang koalisi kebangsaan karena ada kekuatan lama baik dari Golkar maupun PDIP yang mau menguasai parlemen. Kita menyadari ini sesuatu yang bukan saja membahayakan,” katanya.

Hegemoni koalisi kebangsaan yang dipelopori mantan Ketua Partai Golkar Akbar Tandjung, tambah Mahfudz, juga bisa mengancam proses demokrasi yang sedang dibangun.

Mengemban Tugas Baru

Setelah setahun menapaki politik dan dakwah parlemen, Mahfudz kemudian diberi tanggung jawab baru oleh DPP PKS sebagai ketua Fraksi. Dengan jabatan baru ini otomatis pekerjaan bertambah.

Berangkat dari evaluasi yang dinilai kurang vokal terhadap kebijakan pemerintah, pengurus Yayasan Iqra’ ini telah merumuskan arah kebijakan. Di antaranya, F-PKS akan menguatkan komukasi politik, baik di tataran media, maupun di tataran politik, baik kepada stakeholder, pemerintah dan LSM. Ihwal ini dilakukan karena selama ini masyarakat kurang informasi tentang kiprah para anggota legislatif (aleg) PKS.

“Image yang tidak baik selama ini kepada PKS, karena tidak adanya informasi yang lengkap. Nah, ini akan kita lakukan. Kita juga mengaktifkan website (www. fpks-dpr-ri.com, red) dan mendorong para aleg untuk mulai bicara. Kemudian setiap minggu akan kita evaluasi,” tuturnya.

Selanjutnya, katanya, F-PKS punya komitmen untuk memperkuat fungsi legislasi, kontrol dan anggaran di DPR, walupun PKS ikut dalam pemerintahan SBY-Kalla. “Dalam hal kontrol, kita katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Dan itu akan kita lakukan secara terbuka untuk menjadi bagian pendidikan politik masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, berdakwah di parlemen bukanlah hal yang tanpa rintangan, kendati fasilitas cukup menunjang. “Suka dukanya itu bagaimana kita bisa beradaptasi dengan budaya yang sangat kontras. Yang paling nampak adalah dalam gaya hidup,” papar dia.

Senang Mengamati dan Menganalisa

Mahfudz mengaku, sejak sekolah dasar kurang berminat dengan pelajaran eksakta dan lebih senang dengan ilmu-ilmu sosial. “Saya sejak SD punya trauma terhadap pelajaran eksakta. Di SMP saya cenderung pada ilmu sosial. Saat itulah saya berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran sosial, mengamati dan menganalisa,” akunya.

Kebiasaan ini menuntutnya untuk mengasah pikiran dan menambah wawasan. Mahfudz pun mulai berlatih untuk organisasi dan aktivitasnya itu berlangsung sampai ia diterima di FISIP UI.

“Diterima di UI saya bersyukur. Saya berusaha semaksimal mungkin bagaimana saya berhasil dari perkuliahan saya. Oleh karena itu dari awal saya cenderung untuk memanfaatkan waktu ke perpustakaan,” paparnya.

“Tamat kuliah,” sambungnya, “Saya banyak berdiskusi dengan senior dan sangat sedikit waktu yang saya pakai untuk ngobrol ke sana-sini atau jalan sana sini, meski FISIP terkenal dengan fakultas hedonis, hura-hura,” ujar Mahfudz mengenang masa kuliahnya.

Pada masa itu pula, Mahfudz yang besar di lingkungan Nahdliyin itu mulai berinteraksi dengan jama’ah tarbiyah. Masa inilah masa hijrah Mahfudz dalam berpikir dan berorganisasi.

“Saya menemukan perspektif baru tentang pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan lingkungan saya yang NU,” katanya.

Ia menambahkan, “Di situ, saya mulai berinteraksi. Buku yang saya baca pertama kali buku Sayyid Qutb “Petunjuk Jalan.” Saya menemukan pemikiran filosofis yang baru yang lebih hebat,” kata Mahfudz yang juga gemar mendalami pemikiran-pemikiran Barat.

Tidak Segan Menjadi ‘Bapak Rumah Tangga’

Kendati padat pekerjaan sebagai anggota Dewan, Mahfudz adalah suami yang selalu harmonis dengan istri dan putra-putrinya. Untuk menjaga keharmonisan kelaurga, ia tak segan-segan mengerjakan pekerjaan istri tercintanya.

“Ada pekerjaan yang saya lakukan juga melibatkan istri, kalau ke daerah pemilihan saya ajak istri, supaya tahu apa yang saya kerjakan. Kalau sempat mengantar ke pasar juga saya antar,” imbuhnya.

Oleh: akhiemh | September 20, 2007

Pelajar SMU Memeluk Agama Islam

Aku pernah bekerja sebagai seorang guru olah raga di salah satu sekolah SMU di kota Fort Mead wilayah Maryland di negara Amerika. Aku mengajar lima kelas berbeda di sekolah itu. Mulai dari kelas sembilan (tiga SMP) sampai dengan kelas dua belas (tiga SMU), masing-masing lokal berjumlah sekitar 40 orang murid.

Pada suatu hari seorang murid bernama James meminta izin ingin bertemu denganku. Ia bukanlah salah seorang murid dari kelas yang aku tangani. Ia meminta izin melalui salah seorang muridku. Ketika aku menemuinya di kantor, ia bertanya tentang perkara-perkara pokok dalam Islam. Lantas aku memberikan jawaban yang ringkas. Selanjutnya ia kembali menemuiku dan meminta keterangan tambahan tentang hal itu. Aku bertanya kepadanya, “Apakah pertanyaan ini ada hubungannya dengan pelajaran ilmu kemasyarakatan yang sedang engkau pelajari?” Jawabnya bahwa ia telah membaca sebuah buku tentang Islam di perpustakaan sekolah yang memunculkan perasaan ingin tahunya tentang Islam.

Negara Amerika membuat peraturan adanya pemisahan antara urusan agama dan negara. Aku beritakan bahwa pembicaraan tentang masalah ini secara panjang lebar kurang tepat dilakukan di sekolah umum. Oleh karena itu aku mengundangnya untuk menikmati makanan ringan di restoran yang ada di dekat sekolah. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dariku tentang Islam dan tauhid, terlihat bahwa ia banyak mengambil faedah dari pertemuan itu.

Pada waktu itu usia James masih 16 tahun. Ada beberapa ganjalan yang masih menggelayuti pikiranku. Pertama, ia belum mencapai usia dewasa. Jika kedua orang tuanya tahu bahwa ia serius mempelajari Islam dan selalu berbincang denganku, tentu mereka akan melarangnya. Di samping itu, kota Fort Mead tidak lebih sebuah kota kecil tempat pangkalan angkatan bersenjata dan masih termasuk wilayah militer. Aku berfikir jangan-jangan yang demikian itu dapat menimbulkan problem, karena ayah pemuda itu bekerja di pangkalan tersebut.

Walau demikian, aku masih sering bertemu dengannya di restoran itu. Setiap kali pertemuan, aku memberikan penjelasan yang lebih luas agar ia mendapat faedah lebih banyak. Kemudian muncul keinginannya untuk mengunjungi masjid tempat kaum muslimin melaksanakan shalat. Maka aku pun membawanya ke masjid kota Laurel yang berdampingan dengan kota Fort Mead. Masjid tersebut tidak lebih dari sebuah rumah kuno. Kaum muslimin setempat merubah bentuknya untuk kepentingan ibadah. Di sana aku mengajarkannya tata cara mengerjakan shalat yang membuat dirinya semakin tertarik dan takjub, karena shalat merupakan komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Rabb semesta alam SWT.

Kemudian James mengabarkan kepadaku tentang keinginannya untuk memeluk agama Islam dan menanyakan apa yang harus ia lakukan. Aku katakan caranya mudah, hanya dengan sebuah ucapan. Walau antusiasnya memeluk agama Islam sangat besar, tidak lupa aku sampaikan kepadanya bahwa dosa terbesar yang diemban seorang hamba ketika bertemu dengan Rabbnya ialah dosa seorang yang murtad dari agama Islam. Oleh karena itu ia harus menambah pengetahuannya tentang Islam dan amalan yang telah Allah wajibkan baik yang berkaitan dengan tauhid atau perkara ibadah, agar ia memeluk agama Islam atas dasar kesadaran dan ilmu.

Beberapa hari kemudian ia kembali mendatangiku. Dengan anugerah dan nikmat Allah serta dengan keinginan dan pilihan sendiri ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu dengan mengendarai mobilku, sekali dalam seminggu aku mengajaknya untuk melaksanakan shalat di masjid sekaligus untuk mendengarkan ceramah agama. Aku juga mulai mengajarinya huruf-huruf Arab dan dengan mudah dapat ia kuasai. Lantas aku lanjutkan dengan mengajarinya membaca al-Qur’an hingga ia mampu membacanya. Kemudian muncul keinginannya untuk mempelajari adzan. Setelah ia berhasil menguasainya, ia ingin memperaktekkannya di masjid sebagaimana yang telah diajarkan. Pengaruh adzan yang ia dengar dan yang ia kumandangkan terlihat jelas pada dirinya.

Pada suatu hari aku mengajaknya pergi ke masjid. Aku tercengang ketika melihat ia keluar tidak memakai pakaian Amerika tapi malah mengenakan pakaian gamis. Apatah lagi masyarakat sekitarnya sudah mengetahui kalau aku sering mengunjungi rumahnya dan menemaninya pergi ke masjid. Mereka menanggapinya dengan perasaan tidak suka. Aku katakan kepadanya bahwa penampilan seperti ini akan mengundang banyak perhatian. Seorang muslim boleh memakai kemeja dan celana di saat melaksanakan shalat. Setelah aku selesai berbicara, ia memandangku dan menjawab dengan santai, “Ya ustadz Ahmad, imanmu lemah.” Aku bertanya, “Apakah kedua orang tuamu melarangmu memakai gamis tersebut?” Ia jawab bahwa kedua orang tuanya tidak menghalanginya dan mereka memahami bahwa ini semua adalah keinginan dan pilihanku sendiri. Ia juga menyebutkan bahwa ibunya memasak daging halal secara terpisah sebagai penghormatan terhadap dirinya yang tidak boleh memakan daging babi atau bangkai. Aku menjadi tenang mendengar itu semua.

Beberapa waktu kemudian, ia mendatangiku dengan membawa permintaan yang lain. Waktu itu ia masih duduk di jenjang SMU. Ia ingin merubah namanya dengan nama Islami. Aku katakan hal itu tidak mesti selama namamu sekarang tidak terlarang dalam syariat. Begitu juga dengan memakai nama yang asing di kalangan teman-teman Amerikanya mungkin tidak membantunya dalam usaha untuk mendakwahi mereka ke dalam Islam. Atau mungkin di antara mereka ada yang menyangka bahwa ia harus menukar namanya jika ingin memeluk agama Islam. Jika mereka mengetahui hal itu mungkin mereka akan mencuekinya. Namun ia menjawab dengan ucapannya yang lalu, “Ya ustadz Ahmad… imanmu lemah.” Sejak itu namanya berubah menjadi James Husain Abeba. Kelihatannya namanya yang terakhir diambil dari nama orang Afrika yang banyak dipakai oleh bangsa Amerika berkulit hitam.

Setelah berhasil menyelesaikan jenjang SMU, ia mulai mencari pekerjaan di saat liburan musim panas. Ia mendapat sebuah pekerjaan sebagai penerima tamu di salah satu klinik milik seorang dokter wanita muslimah. Ia banyak mengisi waktunya dengan membaca, karena klinik tersebut baru berdiri sehingga tugas yang dilakukan masih sedikit dan tidak banyak menyita waktu.

Pada suatu kali, aku mendapat kesempatan untuk melaksanakan umrah pada bulan Ramadhan. Ini merupakan kali pertama aku menghabiskan bulan Ramadhan di kota Mekkah al-Mukarramah dan Kota Madinah Rasulullah SAW, bulan yang penuh berkah ini. Di balik kegembiraanku dapat melaksanakan Ied bersama kaum muslimin di kota Mekkah, aku masih mencemaskan pemuda (James) yang sedang sendirian di sana. Aku juga menanyakan keadaannya kepada beberapa teman yang ada di masjid. Mereka katakan bahwa ia masih tetap rutin datang, bahkan ia ikut melaksanakan i’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan di masjid itu.

Ketika aku pulang, aku menanyakan beritanya dan aktifitas yang telah ia lakukan. Namun ia tidak menyinggung sedikitpun tentang i’tikaf yang telah ia laksanakan.

Selanjutnya ia memasuki sebuah universitas dan memilih bidang sejarah Islam. Aku juga mendapat khabar bahwa ia menikahi seorang muslimah India. Akivitas yang ia lakukan berupaya mempersatukan mahasiswa muslim yang belajar di kampusnya. Setelah menyelesaikan bangku kuliah, ia bekerja sebagai staf pengajar di salah satu sekolah Islam yang ada di kota Chicago. Dan, setelah itu beritanya terputus.

Oleh: akhiemh | September 20, 2007

Tidak Aku Duga Darinya

Seorang guru di salah satu negara Islam, putranya jatuh dari atap rumahnya. Oleh karenanya, putranya itu langsung meninggal dunia … Inilah takdir Allah.

 

Bapak guru ini tidak menanggung beban kesedihan darinya. Akan tetapi dia khawatir terhadap istrinya ketika mengetahui kematian anaknya.

 

Lalu istrinya tahu. Apa yang dilakukan? Apakah dia menampar pipinya atau merobek sakunya? Apakah dia jatuh pingsan karena tidak kuat menahan beban berat?

 

Kita lihat ….

 

Ya, dia berucap lirih … kalimat-kalimat…

dengarkanlah dengan baik.

Dia berkata,”Alhamdulillah, apapun yang terjadi. Ya Rabbi, Engkau memberiku empat orang anak, lalu Engkau mengambil satu. Ya Allah berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik daripadanya untuk agama dan duniaku.”

Subhanallah, benarkah dia mengucapkan itu, sementara ini adalah zaman modern. Iman dan kesabaran apa yang mendorong sang ibu mengucapkan kata-kata itu? Ya … benar-benar kalimat iman yang mencengangkan suaminya.

Inilah komentar sang suami tentang istrinya, “Saya tercengang. Dengan iman yang kuat, dia menerima musibah pada saat terjadinya dengan tenang dan berharap pahala dari-Nya.”

….Ibu ini tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala….

 

 

Dia bersyukur kepada-Nya atas nikmat anaknya yang berjumlah empat, di mana salah seorang dari mereka diambil oleh Allah.
Dengan hati yang murni dia memohon agar Allah menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya.

 

Lebih baik bagi agama dan dunianya.

 

Ukhti yang mulia, itu adalah buah, buah bersemayamnya iman di dalam hatinya. Yang diterjemahkan oleh pikiran dan diungkapkan oleh lisan.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sabar di saat musibah dan kesulitan. Sebuah titik tolak, darinya ibu ini menghadapi kehidupan.

 

Kehidupan dengan kebahagiaan dan kesulitannya. Dengan izin Allah Taala, saya akan menjadikan hari-hari mendatang sebagai tolak ukur kadar syukur dan sabarku kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Pemberi.

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (terdapat dalam hadits shahih Al-jamius Shaghir, juz 4, no.3875) yang artinya:

 

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, semua perkaranya baik dan itu hanya untuk orang mukmin. Jika dia memperoleh nikmat dia bersyukur, maka hal itu baik untuknya, dan jika tertimpa musibah dia sabar, maka hal itu baik baginya.”

 

  • Dalam hidup ini terkadang kita berbahagia, saat Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan nikmat-nikmat-Nya yang besar, maka kita harus bersyukur kepada-Nya.
  • Dalam hidup ini terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita dengan musibah, antara lain dengan kehilangan orang yang kita cintai seperti ibu, ayah, anak atau istri. Maka kita harus tetap bisa mengendalikan diri saat musibah terjadi dan memohon kepada Allah agar memberi ganti yang lebih baik.

Para pejuang Palestina terlibat pertempuran dengan tentara Israel, menyebabkan satu orang tentara Israel dan seorang pejuang Palestina tewas. Militer Israel melaporkan, sejumlah tentaranya juga mengalami luka-luka dalam insiden yang terjadi Selasa (18/9).

Para pejuang Palestina melakukan perlawanan terhadap pasukan Israel yang menyerbu kamp pengungsi Ein Bet Ilmeh di kota Nablus, Tepi Barat. Juru bicara militer Israel mengatakan bahwa pertempuran pecah ketika warga Palestina mulai melempari pasukan Israel dengan batu. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan. Suara tembakan saling bersahutan, asap mengepul dari kamp pengungsi itu, sementara deru pesawat helikopter Israel meraung-raung di atas langit kota Nablus.

Para petugas Medis Palestina mengungkapkan, pejuang yang tewas berasal dari kelompok pejuang Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) dan menjadi pejuang Palestina keempat yang tewas oleh pasukan Israel dalam tiga hari belakangan ini.

Selain para pejuang dari PFLP, para pejuang dari Jihad Islami, Brigade Izzudin al-Qassam, Brigade Al-Quds dan Brigade Martir al-Aqsa juga terlibat pertempuran melawan pasukan Zionis itu.

Sejumlah saksi mata mengatakan, pasukan Israel melarang ambulan-ambulan milik petugas Palestina masuk ke kamp. Pasukan Zionis itu juga memberlakukan jam malam di kamp yang berpenghuni sekitar 5. 000 jiwa, melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah, merobohkan dinding-dinding rumah warga Palestina dan menjadikan penghuni kamp sebagai tameng hidup.

Sementara itu laporan reporter Al-Jazeera melaporkan bahwa pasukan Israel menembaki sebuah gedung yang berada di tengah kamp, dengan alasan mencari para pejuang Palestina. Tentara-tentara Israel itu juga melarang para jamaah keluar dari dalam masjid yang ada di dalam kamp.

« Tulisan Baru

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.